Review TickTick Setelah Sebulan Pemakaian. Aplikasi Todolist Terbaik?

Buat sobat-sobat pembaca yang belum tau, saya ini merupakan salah satu manusia pegiat todolist, dan sudah konsisten menggunakannya selama beberapa tahun terakhir. Hampir semua tugas dan rutinitas sehari-hari, itu senantiasa saya catat dan eksekusi dengan menggunakan aplikasi todolist ini.

Dan ceritanya pun cukup panjang, gaes. Semua berawal dari masa-masa saya sekolah dulu, dimana saya kena semprot ganas dari Mamake. Penyebabnya? ranking saya turun dari ranking 3 ke ranking 13.

Sejak saat itulah, saya berupaya untuk memperbaiki diri dan agar nilai akademik saya bisa membaik lagi. Biar nggak malu-maluin amat lah ya.

Salah satu ‘penyakit’ saya yang paling akut saat itu adalah, LUPA. Iya, saya ini sering banget kelupaan banyak hal. Entah itu PR dari guru, warna seragam, atau bahkan kendaraan apa yang saya pake ke Sekolah. Pernah saking parahnya ya, pulang sekolah saya malah nungguin angkot bareng temen-temen. Padahal pas berangkatnya, saya bawa motor. (Absurd banget sih ini)

Demi menanggulangi berbagai masalah yang timbul akibat kebiasaan lupa saya itu, maka saya pun mencoba membuat sebuah kebiasaan baru, yakni menulis semua yang harus dikerjakan.

Harapannya, ketika apa yang harus dikerjakan sudah ditulis, maka saya bisa leluasa ‘mengosongkan’ isi kepala. Tak perlu lagi berusaha untuk mengingat-ngingat semua hal, yang pada malah bikin saja pusing dan berakhir jadi kekacauan.

Akhirnya saya pun membeli buku notes kecil, yang kemudian dikaitkan pada sebuah tali lanyard. Biar apa? ya biar bisa bawa kemana-mana. Nganu, sejujurnya saya tuh agak ter-influence dari karakter Dadang di film Tarix Jabrix. Karakter pelupa akut yang mencatat semua ingatannya di notes.

Ada yang masih inget film ini?

Lewat notes itulah, saya mulai menulis semua hal yang harus saya kerjakan. Apa saja tugas terbaru dari guru, materi apa saja yang perlu dipelajari, hingga ujian apa saja yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat. Semuanya disusun rapi per hari, yang kemudian akan saya checklist apabila sudah selesai dikerjakan.

Hasilnya? Luar biasa. Saya selalu menyelesaikan tugas lebih awal dari teman-teman yang lain. Selalu lebih siap untuk mengikuti ujian daripada yang lain. Dan tentunya, semester itu berakhir dengan saya menjadi peringkat satu di kelas.

Daaaan semenjak itulah, hubungan saya dan catatan checklist ini menjadi kian mesra. Bahkan setelah bertahun waktu berlalu, saya masih setia menulis dan men-checklist setiap tugas dan rutinitas saya sehari-hari.

Tapi seiring waktu berlalu, dan teknologi kian bergerak maju, maka behaviour saya pun bergeser. Kalau dulu nyatetnya di media kertas fisik, sekarang sudah nggak lagi. Kita lebih sering pegang layar, daripada pegang kertas. Jadi kini semua catatan saya pun saya pindahkan, menjadi data digital berbasis layanan aplikasi.

Sekarang udah ada sistem cloud, semua perangkat jadi terhubung.

Adapun saat ini, Saya menggunakan 2 aplikasi yang berbeda dalam penggunaan keseharian. Untuk note-taking app, saya menggunakan AnyType. Sementara untuk todolist, saya pakai TickTick.

Wait wait wait, apa pula bedanya note taking app sama todolist? Saya nggak ngerti euy.

Wookeh, biar nantinya sefrekuensi, akan saya bantu jelasin terlebih dahulu ya, apa saja perbedaan antara kedua jenis aplikasi tersebut.

Todolist vs Note-Taking App

Kenapa saya harus repot-repot pakai 2 aplikasi berbeda? Kenapa nggak cuma 1 aja?

Well, itu karena kedua jenis aplikasi ini punya fungsi dan tujuan yang berbeda. Dan dari pengalaman saya, keduanya cukup sulit untuk disatukan.

Aplikasi todolist, gunanya untuk mengelola tugas dan eksekusi pekerjaan. Biasanya berbentuk daftar tugas (task), dengan beberapa detil tambahan seperti batas waktu dan jenis prioritas. Jika sudah tugas sudah selesai dikerjakan, kita bisa mencontreng / checklist tugas tersebut.
Aplikasi seperti ini cocok untuk mengorganisir tugas rutin harian, atau berbagai pekerjaan yang bisa selesai dalam satu waktu.

Beberapa contoh aplikasi todolist misalnya : Microsoft ToDo, Todoist, TickTick, Google Task, dan lainnya.

Sementara Note-taking app, fungsinya untuk menyimpan, mengembangkan, dan menghubungkan informasi. Makanya isinya pun biasanya lebih bebas, panjang dan fleksibel. Kita bisa menambahkan catatan dalam bentuk teks, gambar, link, atau bahkan audio dan video.
Note-taking ini biasanya digunakan untuk menyimpan ide-ide penting, hasil riset informasi, atau progres sebuah project yang butuh waktu panjang untuk diselesaikan.

Beberapa contoh note-taking app misalnya : Notion, Anytype, Obsidian, Evernote, dan masih banyak lagi.

Dari sini udah keliatan yah bedanya?

Todolist itu lebih fokus ke eksekusi, sementara note-taking app lebih ke riset & planning. Kalau kita cuma pake todolist aja, hasilnya bisa kacau. Karena kita gak punya gambaran besar atau helicopter view dari project yang sedang kita kerjakan. Sementara kalau cuma pakai note-taking app, juga gak maksimal. Karena kita jadi gak bisa mengorganisir dan mengatur tugas yang mana dan apa saja yang harus dikerjakan terlebih dahulu dalam waktu yang terbatas ini.

Biar lebih jelas lagi, saya kasih contoh penggunaannya dalam keseharian, misalnya saya mau ngelarin sebuah tulisan di blog ini.

  • Di AnyType : Saya mengumpulkan semua gagasan, kerangka ide, kutipan dan data yang mendukung proses penulisan.
  • Di TickTick : Saya membuat daftar checklist yang berisi,
    • Selesaikan semua proses penulisan
    • Baca ulang lalu cek apakah ada grammar error
    • Cari dan retouch ilustrasi/foto yang mendukung
    • Share tulisan ke Instagram, WhatsApp dan Linked.In

Udah kebayang yaaa? hehehe. Mungkin keliatannya agak repot untuk pakai dua aplikasi, tapi kalo udah terbiasa mah, bakal gampang dan seamless kok pada saat pengerjaannya.

Nah, khusus di tulisan kali ini, saya akan bahas lebih dalam seputar TickTick dulu yaa. Ini merupakan aplikasi todolist yang sudah saya gunakan selama sebulan terakhir. Dan sejauh ini, experience saya sangat-sangat memuaskan.

Alasan Menggunakan TickTick

Sebelum berpindah ke TickTick, sejujurnya saya sudah cukup lama menggunakan aplikasi Microsoft Todo.

Alasannya, karena kebetulan Microsoft ToDo itu gratis sepenuhnya. Sementara kalau aplikasi lainnya, itu rata-rata menganut konsep Freemium alias gratis tapi disertai beberapa fitur berbayar.

Tapi yaaaah… namanya juga aplikasi full gratisan. fiturnya lumayan terbatas, dan updatenya pun bener-bener lambat banget. Kalo untuk penggunaan standar nan biasa, mungkin sudah cukup. Tapi kalo pengguna advance yang banyakkk banget kesibukan dan kepengennya macem saya, Microsoft Todo ini kok berasa kurang maksimal ya?

Long story short, setelah mencoba mencari-cari info, ternyata banyak software reviewer yang merekomendasikan aplikasi bernama TickTick ini. Penasaran dong saya..

Apalagi, di satu tech youtuber ternama, Marques Brownlee alias MKBHD secara terang-terangan menyebutkan dirinya sebagai pengguna setia aplikasi TickTick.

Dan kalian tau, kalau seorang tech youtuber sampe berani terang-terangan menyebutkan sebuah aplikasi tanpa di-endorse, tentunya itu pertanda bahwa ia puas banget sama aplikasi tersebut.

Singkat cerita, saya beralih sepenuhnya ke Ticktick. Dan setelah hampir sebulan lebih menggunakan aplikasi ini, saya bahkan gak kepikiran sedikitpun untuk balik lagi ke Microsoft Todo.

Alasannya? Banyak banget gaes!! Kita bahas dari yang pertama dulu ya…

Kaya Akan Fitur, Bahkan di Versi Gratisan

Alasan pertama (dan paling utama) kenapa saya bulat meninggalkan Microsoft Todo dan beralih sepenuhnya ke TickTick, adalah kesenjangan fitur.

Kalau saya baca-baca review online, memang fitur di aplikasi TickTick ini lengkap sekali. Dia menyajikan banyak fitur tambahan yang sangat berguna, membuat kita bisa lebih produktif dan menyala.

Hebatnya, fitur-fitur ini tidak terbatas hanya untuk pengguna premium saja. Melainkan, juga disajikan bagi pengguna gratisan. Nganu, dengan pembatasan yang menurut saya masih dalam batas wajar.

Apa saja fiturnya? Mari kita bahas satu per satu.

1. Sub-Subtask & Checklist

Fitur paling pertama, dan paling basic. Tapi ini langsung membuat TickTick terasa jauh superior dibandingkan aplikasi lainnya. Jadi kalau kita bikin sebuah task, itu kan biasanya ada sub-task untuk detil lebih lanjut yaaa.

Nah, kalau di TickTick, tiap Sub-task itu bisa ditambahkan subtask tambahan lagi. Dan menariknya, subtask tambahan itupun bisa diberikan subtask lagi. Jadi apa yak sebutannya? Sub-sub-subtask? hahahaha.

Selain subtask, ada juga fitur checklist. Fungsinya mirip kayak subtask, tapi kalo beda secara tujuan penggunaan. Kalau subtask itu lebih ke step by step, kalau checklist itu lebih cocok daftar crosscheck.

Contohnya :

  • Mencuci dan Menjemur Pakaian, itu step by step. Jadi pakai subtask.
  • List barang-barang yang harus dibawa, itu crosscheck. Jadi pakai checklist.

2. Kanban View

Kalau kalian terbiasa untuk men-track progress pekerjaan dalam gaya Kanban, tak perlu khawatir. Karena TickTick juga menyediakan fitur Kanban View.

Biasanya sih tampilan ini berguna untuk project yang bersifat progress, sehingga lebih mudah untuk dilacak.

Nganu, ada yang sering pake sistem gini?

3. Matriks Eisenhower

Di Microsoft Todo, tingkat urgensi sebuah tugas itu cuma dibagi ke dalam 2 kategori, yakni Urgent & Not Urgent.

Kalau di TickTick, pengelompokan tingkat urgensi dibuat lebih advance dengan menggunakan sistem Matriks Eisenhower.

Adapun Matriks Eisenhower adalah sebuah metode yang dipopulerkan oleh Dwight D. Eisenhower (mantan Presiden AS). Dimana dalam metode ini, skala prioritas tugas akan dibagi ke dalam 4 kuadran : Penting & Mendesak (Lakukan Segera), Penting & Tidak Mendesak (Jadwalkan), Tidak Penting & Mendesak (Delegasikan), dan Tidak Penting & Tidak Mendesak (Hapus / Minimalisir).

Fitur ini bermanfaat untuk memudahkan kita menentukan skala prioritas. Jadi jangan sampai lagi ada kejadian, kerjaan yang gak urgent bisa kita kelarin, tapi eeeh.. tugas utaman yang hakikatnya lebih penting, malah gak kelar-kelar.

Itu namanya prokrastinasi…

4. Pomodoro Timer

Fitur ini memungkinkan kita untuk mengadopsi Pomodoro, sebuah metode manajemen waktu yang membantu fokus bekerja dalam interval pendek, lalu diselingi istirahat singkat. Metode ini dibuat oleh Francesco Cirillo.

Selain pomodoro, kita juga bisa menambahkan white noise. Yakni suara latar konsisten dan monoton yang berisi semua frekuensi suara dengan intensitas relatif sama. Adapun white noise sering dipakai untuk menyamarkan suara lain yang mengganggu.

Untuk di versi gratisannya cuma ada suara detak jam dinding aja sih. Tapi lumayan lah, ini pun sudah sangat membantu untuk kita jadi fokus.

5. Habit Tracking

Sesuai namanya, fitur ini berfungsi untuk membantu kita melacak dan membentuk kebiasaan baru. Entah itu rutin lari pagi, rutin olahraga, atau mungkin berhenti merokok.

Di versi gratis Ticktick, kita cuma bisa menambahkan maksimal 5 habit saja. Tapi menurut saya ini sudah lebih dari cukup ya. Terlalu banyak menambahkan habit, itu juga kan gak bagus. Malah gak fokus jadinya gaes.

6. Countdown

Ini fitur yang useful banget si. Karena dengannya, kita bisa menghitung mundur berapa hari yang tersisa sampai ke tanggal tertentu yang kita tandai.

Sangat berguna bagi pria-pria macem saya yang seringkali kelupaan tanggal penting seperti tanggal jadian, tanggal pernikahan, dan ulang tahun istri.

Hayoo, siapa yang sering kena smash istri perkara lupa tanggal penting? hahahaha.

7. Statistics

Last but not least, seringkali semua hal yang kita kerjakan di aplikasi todolist itu selesai dan berlalu begitu saja. Tapi tidak dengan TickTick, karena aplikasi ini menyediakan fitur statistics, yang menyajikan berbagai data laporan kita selama menggunakan aplikasi ini.

Yha, laporannya memang sederhana, tidak mendetail. Tapi sudah cukup untuk membantu kita melihat seberapa besar tingkat produktivitas kita, dan merasakan sesuatu yang disebut dengan sense of progress.

Meski Kaya Fitur, Tapi Tetap User Friendly

Satu hal yang saya kagumi dari TickTick : Meskipun fitur yang ditanam sudah sebegitu banyak, tapi tidak membuat antarmukanya menjadi rumit dan sulit dipahami. Dari sejak pertama kali bermigrasi, saya langsung bisa memahami dan mengakses fitur-fiturnya dengan mudah.

Gak ada tuh, yang namanya kurva belajar tinggi.

Mungkin ini subyektif ya, karena memang sebelumnya saya sudah cukup sering pakai aplikasi todolist dalam keseharian. Tapi jika diberikan ke orang awam sekalipun, saya yakin bahwa orang tersebut takkan butuh waktu lama untuk belajar.

Dan nilai positifnya lagi, sebagai sebuah aplikasi berbasis cloud yang bisa terhubung ke berbagai perangkat, aplikasi ini sudah dioptimasi agar nyaman dipakai di platform apapun. Entah itu Desktop PC dengan Mouse, atau Tablet dengan layar sentuh.

Jika dibuka dari Tablet dan Smartphone, ada beberapa gesture khusus yang memudahkan penggunaan. Sementara kalau di Desktop PC, ada bwaaanyak banget shortcut-shortcut penting yang bikin penggunaanya makin cepat dan mudah.

Pendapat dan Penilaian Akhir

Untuk saya pribadi, aplikasi ini layak dapat nilai 9/10.

Bisa dibilang TickTick ini Raja Terkuat dari segala todolist ya. Karena ia memang se-powerful itu. Fitur yang disediakan sangat banyak dan lengkap, namun tidak membuat antarmukanya menjadi rumit.

Udah gitu, mayoritas fiturnya pun bisa digunakan dalam versi gratisnya. Sehingga kita tak perlu merogoh kocek kalau kebutuhannya masih belum terlalu besar. Win-win solution sekali kan ya?

Kalau kalian pribadi, pernah pakai aplikasi apa aja?
Masih suka rutin pake atau nggak sampe sekarang?

Coba tulis di kolom komentar yaa..

Bekasi, 04 Januari 2026
Ditulis sambil melihat langit bekasi yang makin mendung.


Yuk, bantu penulis agar makin semangat membuat tulisan baru.
Kamu bisa melakukan transfer secara langsung ke rekening BCA : 6871338300.

Untuk info ratecard dan ajakan kerjasama, silahkan klik tombol berikut :

Fajarwalker

A Man with frugal style living. Sering dikira pelit, padahal cuma males keluar duit.

Post navigation

33 Comments

  • Ada masanya dulu aku juga biasa bikin to-do-list di kertas untuk kegiatan harian atau mingguan. Begitu semua kotaknya udah dicentang tuh ada kebanggaan tersendiri haha, trus gara-gara tulisan ini baru inget kayaknya udah lama nggak melakukannya, kayaknya belasan tahun pasca udah gak ngantor lagi.

    Menarik ya, utamanya TickTick ini. Penjelasan mas Fajar ini runut dan detail banget, jadi bisa memahami cara kinerjanya secara keseluruhan. Boleh juga ini mulai bikin lagi to-do-list tapi memanfaatkan teknologi.

  • Halo Mas Fajar.. Wah ini To do list cuma levelnya udah Dewa. Sampai dalam sub task ada sub task lagi yang bisa di sub lagi .. Keren beud.

    Aku sendiri sama kak. Tipe yang sering bikin To do list. Cuma aplikasi yang aku pakai bawaan Xiaomi aja. hehe. Seringnya aku isi sama tugas kuliah dan kegiatan hari itu. Sama kaya Mas Fajar. Aku pun sering lupa. Kalau Mas lupa bawa motor, aku pernah belanja di Indomaret tapi malah lupa bawa belanjaannya 🤣. Pas udah sampai rumah bingung “Aih belanjaan aku mana?”

    Nanti mau coba deh kapan-kapan. Siapa tahu bisa naik level. hehe. Sebenarnya selain to do list. Aku juga sering pasang reminder harian. Terutama Obat. Aku ada 2 obat yang nggak bisa lepas setiap harinya. Jadi kadang suka kelupaan kalau udah sibuk.

    Tahun lalu pas beli HP Xiaomi terus dpet penawaran harga Jam Tangan Mereka. Aku cukup tergiur buat beli. Di Jam tangan itu deh aku bikin semacam reminder setiap jam 7 pagi dan 7 malam buat minum obat. eheh.

    • Wah, kalo habit gitu memang baiknya pake smartwatch sih mbak. Biar langsung ada notif geterr gitu ke pergelangan tangan.
      Tapi kalo gasalah, si TickTick ini juga ada versi smartwatchnya juga lho mbak.

  • Ya Allah mas fajar, ngakak banget yg lupa bawa motor itu 🤣🤣🤣🤣🤣. Untung ga mikirnya motor di curi sampe rumah yaaa 😂.

    Aku inget film tarik jabrik, tp ga pernah nonton, cuma tahu film itu. Kok jadi penasaran yaaa, apalagi yg main Changcuters kan 😄😄😄

    Aku tuh juga penganut to do list. Dari zaman kerja suka pake list supaya yakin kerjaan mana yg udh selesai.

    Tp aku masih kuno aja, pakenya manual yg di notes dulu. Kalau skr pake feature Notes yg ada di hp.

    Makanya pas baca tulisan ini, aku LGS install tick tick ❤️❤️❤️. Td aku utak Atik sebentar , dan kayaknya aku bakal sukaaaa. Ini Krn masih baru, jadi mungkin agak blm biasa. Tp so far cocok memang utk bantu tugas2ku 😍😍👍.

    Tx sharingnya mas 👍

    • Heh, beneran aku pernah kehilangan sepedaaaa :'(. Terus kan udah suudzon gitu ya sama tetangga, dimaling gitu sepedanya.
      Eeeeeh ternyata ketinggalan di tukang nasi goreng, hahahaha. Jadi pas berangkat bawa sepeda, daku pulangnya jalan kaki.

  • Dikau itu seperti jatuh hati banget sama aplikasi ticktick ini yak, buktinya dikasi skor 9/10. Itu sebuah penilaian sangat tinggi menurutku. Dan ketika baca alasannya, terasa sekali aplikasi ini sangat membantumu.

    Point tentang Matriks Eisenhower, mengingatkanku pada satu buku judulnya The Seven Habits karya Stephen R. Covey. Penting untuk tahu mana yang utama dan urgent, itu mempengaruhi hasil.

    Aku semakin mengerti dan percaya, kamu ini bisa mendapatkan dan akan terus menjadi terbaik karena sudah melakukan hal-hal yang tepat dalam prosesnya. Seperti saat menumpuk tugas, dijabarkan satu satu via to do list dan memaksimalkan aplikasi.

    Aku sendiri soal aplikasi apapun, belum bisa memaksimalkan, masih cara lama #pakaibuku wkwkwk (Terlihat umurnya yak ha ha ha)

    • Aku kalo seneng dan puas, pasti kukasih rating super tinggi mbak, hehehe.
      Aku gak begitu pake eisenhower mbak. Biasanya atur skala prioritas sendiri aja si.
      Yuk semangattt mbaaaak, mari bersinar di 2026 iniii

  • Itu kejadian lupa bawa motor epic banget dahhhh bisa2 nya selupa itu yaaa wkwkwkwk…
    Sepertinya memang parah ini tingkat slebor nya hihihi…
    Liat review aplikasi ticktick ini aku sampai woww loooo komplit buanget sekomplit ituuuu…buat aku yang gak pernak pake to do list jadi bener2 takjub hehe…
    Sepertinya aplikasi tersebut berguna banget buat yg pelupa atau yang mempunyai kesibukan super tinggi yaaa lengkap ada summary nya juga keren sie ini aplikasi menurutku meskipun gak menggunakannya tapi baca detail nya saja sudah yakin 😉

  • Ya ampun Mas makasih banget sharingnya. Aku sudah berkali-kali install dan uninstall aplikasi to do list karena belum nemu yang klik banget. Setelah baca review ini kayanya ini deh yang aku cari. Aku coba install dulu. Semoga beneran sesuai ekspektasiku ☺️

  • Aku bukan termasuk yang pakai to di list sih, mas. Mungkin karena itu target Impianku banyak nggak tercapai ya. Sekarang masih nulis di jurnal aja sih tapi semoga nanti bisa naik ke to do list ini. Btw ini istilahnya canggih juga ya aku nggak ada yang tahu selain pomodoro. Hihi

  • Detil sekali review-nya mas, dari latar belakang personal, proses riset, eksekusi, sampai ke kesimpulan akhir. Mantap!

    Saya sama kayak sampeyan, pelupa akut. Bedanya, kalau mas Fajar langsung mawas diri dari remaja, saya sampai sekarang mau nyatet to-do list itu masih angin-anginan karena… lupa sendiri. Tapi, call me old-fashioned, saya malah nggak terlalu suka pake app lagi buat reminder, jadi sekarang lagi dibudayakan menulis di papan. Sekalian buat gadget-break juga sejenak, biar gak apa-apa pakai gadget.

    Sebagai anak agency, sudah familiar dengan beberapa platform note-taking seperti Notion, Evernote, dsb. Nanti kalau mau install aplikasi to-do-list, pasti akan install Tick Tick sesuai rekomendasi mas Fajar. Makasih ya, mas.

    • matur wusun masssss….

      Aku tadinya biasa pake Notion mas. Tp per tahun kemarin sudah resmi migrasi ke Anytype. Nanti kapan2 saya tulis deh alasannya, hehehe

  • Saya jadi ingat cerita di majalah Bobo. Insya tokohnya itu ibu-ibunya yang habis belanja banyak dan kerepotan. Di naik taksi. Pas rogoh tas mau bayar taksi, kok ada kunci mobil. Dia lupa mobilnya di parkiran hahaha.
    Alhamdulillah menulis itu membuat ingatan saya cukup kuat. Jadi saya ga pernah buat beli list apa saja kegiatan dan centang apa yang sudah saya kerjakan Mas. Tapi untunglah setiap Masalah pasti ada solusinya ya Mas. Kayak orang yang pelupa, dulu pakai notes. Sekarang ada aplikasi yang membuat juga.

    • Wahahaha, itu persis sama kayak saya banget paaak.
      Betul pak, kebetulan kalau sekarang sudah nyaman pakai aplikasi begini. Yowis jadi membantu biar produktif saja.

  • Eh aku baru denger nama App Ticktick. Namanya lucukk..

    Sejujurnya aku kalau bikin to-do list setengah konvensional, setengah lagi digital. Wkwkw.. soale ndak bisa ninggalin coret² kertas. Kayak guatel tanganku kalau nggak coret².. 😂

    Tapi kalau app, aku masih pakai SimpleNote mas Fajar. Soalnya kadang sekalian ngetik² blog yang tinggal kucopas atau kalau punya wordpress tinggal konek ke Jetpacknya.

    Cuma kok menarik ya Ticktick ini. Udah gratis plusnya kaya fitur. 😍😍

    • Mirip lagu ya mbak. Tickticktick bunyi hujan.. hahahaha
      Aku pernah denger simplenote mbak. Tapi kebetulan belum pernah coba.
      Sekarang udah kadung nyaman sama AnyType, jadi belum kepikiran coba yang lain

  • Daku belum ubek-ubek Microsoft ToDo, begitu pula dengan si aplikasi Ticktick.
    Selama ini biar gak lupa seringnya nyatet manual atau simpan di gmail maupun catatan keep.
    Baru engeh ada yang sat set dan bisa rapi ya bikin catatan di aplikasi Ticktick. Boleh dah buat daku telusuri, terlebih dapat rating tinggi nih dari Mas Fajar. Ciamik berarti tuh

  • Aku boleh ketawa ga kang ? Bener2 ih lupa itu kaya penyakit ahahah, ya Allah udh tau aku teh pelupa tapi gada niatan gitu buat perbaiki , minimal atuh biki todo list atuh ya , pas jama kerja di depan komputer teh ya sticky note warna warni karena aku full time tuh dari 8 – 16.30 kalau engga note2 itu mah aku suka ada weh yg lupa menyebilkan , microsoft todo emang ada ya ? ( aku kudet bangeut )

  • Hmm keren ya karena ada yang bisa natu mengingatkan
    Kalau saya juga pelupa tetapi sejak ada alarm di ponsel ikut teringat
    Suka terdistraksi juga awalnya
    Seringnya tuh bermasalah kalau sudah ke minimarket
    Tujuannya beli apa eh yang utama lupa makanya memang perlu aplikasi ini

  • Membaca soal Aplikasi todolist, saya jadi ingat sudah lama tidak membuat list seperti ini padahal penting juga ya selama ini hanya mengandalkan notes di handphone ada pakai aplikasi seperti ini pastinya akan lebih tertata rapi dan juga lebih jelas goalnya

  • aku termasuk yang cukup sering lupa, memang pernah bikin noted di buku atau stick note, tapi kalau stick note kadang suka lepas tempelannya
    terus coba pake stick note di komputer, pas awal-awal mah termasuk rajin gitu, lama-lama aku uninstal hahaha
    terus sekarang udah banyak aplikasi to do list, saking banyaknya sampe bingung yang mana yang mau dicoba

    di list mas fajar termasuk banyak banget nih, ada evernote juga, notion. Nah aku pernah coba Notion, pas awal aja suka make, tapi belum sempet utak atik fiturnya jadi bingung sendiri

    terus ticktick ini baru denger aku,sepertinya menarik buat dicoba ya, apalagi kalau fiturnya membantu banget buat bikin kerjaan kita jadi rapi

  • Wah, baca pengalamannya Mas Fajar soal lupa bawa motor pas sekolah itu relate banget, karena saya juga beberapa kali mengalami kejadian, pas ke pasar, pulangnya jalan kaki, sampai rumah bingung karena mengira motor hilang, ternyata masih anteng di parkiran 😄. Saya juga tipe yang kepalanya ‘penuh’ kalau nggak dicatet.
    Setelah membaca tulisan ini saya jadi tertarik untuk mencoba Ticktick, kuncinya ada di user friendly,
    Untuk emak-emak macam saya ini, jujur perlu yang simpel tapi komplit😄
    Terima kasih sharingnya, sangat bermanfaat sekali. Ditunggu sharing berikutnya ya🙏

  • Waah sama donk mas Fajar dengan saya. Saya juga suka pakai to do list setiap jari, terus kalau sudah selesai ditandai kalau belum ya jadi PR. Waah ternyata sekarang ada aplikasinya yaaa makin memudahkan saja berarti. Coba deh nanti aplikasi trick trick ini…

  • Akan kucoba menggunakan TickTick juga..
    Hihihi.. slama ini masih se-klasik bikin tulisan to-do list di sticky notes.
    Enaknya, aku kalo pas duduk di depan laptop, langsung ke trigger.
    Gaenaknya, kalau bepergian, si kertas-kertas ini nempelnya di dinding, kaan.. jadi tetep ada yang belum dilalui.

    Kudunya iya sih yaa.. di catet di apps yang bisa bikin kita produktif.
    Apakah ada jam yang bisa kita setting agar ada notifnya ketika harus melakukan to-do list yang hi-priority?

  • Setujuuuu, kalau sebuah aplikasi bagus, tanpa endorse juga pasti ada yang makai dan tentu saja saling merekomendasikan ke teman2 yaa.
    Saya pribadi suka dengan platform yang nggak rumit, eh tapi zaman sekarang kan udah banyak tutorial, asal mau ngulik hehe
    Tick Tick ini jujur baru denger mas, sepertinya aku juga bukan yang membutuhkannya. Tapi bener sih kalau emang sangat membantu aktivitas pasti akan dipakai terus yaa 😀

  • Hal kecil dan sepele tapi bawa perubahan masa depan. Dengan aplikasi bisa membuat kita disiplin waktu, kadang aplikasi suka bikin kita lupa waktu terutama aplikasi sosmed.. maunya sebentar aja main sosmed lama2 2jam berlalu, 4jam berlalu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *